Arsip untuk November 15, 2007

Kemuliaan di Ujung Malam

Kemuliaan di Ujung Malam

Oleh Aidil Heryana, S.Sosi | 13 November 2007 @ 17:46 | 3/Dzulqaidah/1428 H | Kategori: Kaifa Ihtadaitu

Malam kian larut berselimut gulita
T’lah sekian lama tiada kekasih kucumbu
Demi Allah, bila bukan karena mengingat-Mu
Niscaya ranjang ini t’lah bergoyang
Namun duhai rabbi,
Rasa malu telah menghalangiku…

Hari demi hari berlalu tanpa kesan apa pun, semua dirasakan kosong, semua berlalu secepat petir yang singgah hanya dalam hujan sehari. Perasaan itu seakan berteriak kencang ‘aku butuh teman’….tapi tak seorang pun mampu mendengarnya, lalu dipejamkan matanya, berpikir…’aku dalam kesendirian’.Kungkungan sunyi dan kehampaan hati itu seakan bertanya, adakah seseorang yang mau berbagi. Berbagi dalam suka dan duka, tak peduli pagi, siang dan malam. Dia membutuhkan semua itu, merindukan saat-saat indah itu. Saat ketika rindu menyapa yang membawanya jauh dengan perasaan itu, hasrat itu.

Wanita itu termenung di balik jendela kamarnya. Tatapan matanya kosong. Sementara suasana malam terasa begitu mencekam: dingin dan sepi. Suami tercinta berada di negeri jauh melaksanakan tugas khalifah di medan jihad. Wanita itu nyaris frustrasi karena pertahanan diri mulai terganggu. Wanita shalihah yang tinggal di pinggiran madinah ini lebih suka sendirian dalam kamarnya. Ia seakan hilang dari kehidupan ramai. Apalagi sewaktu udara begitu dingin menusuk tulang. Berkawankan sepi dan dingin, namun dalam suasana demikian mampukah wanita itu melahirkan muraqabatullah.

Syair itu menggambarkan pergulatan batin yang luar biasa, dilantunkan seorang perempuan di zaman Umar bin Khatab. Waktu itu, Umar sedang berkeliling kota dalam kegelapan malam. Dalam perjalanan rutin itu, sampailah beliau ke dekat rumah seorang perempuan yang sedang menahan gejolak biologisnya karena ditinggal berjihad suaminya dalam waktu yang lama. Untuk sekedar menghibur diri sendiri dalam kesepian yang begitu sangat, terlantunkanlah syair itu yang kemudian didengar oleh Umar.
Keterpisahan dengan suami tercinta dalam waktu lama, kesepian, kegelapan malam melambangkan kesuraman yang melanda jiwanya. Kesulitan untuk tidur pada waktu itu mungkin merupakan pengalaman terburuk yang pernah dijumpainya. Penderitaan yang paling menyiksa bagi seseorang yang mengalami kesepian.

Orang yang terjaga dari tidurnya di tengah-tengah kesunyian malam, sangat mudah dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Bayang-bayang mimpi yang mendatangkan perasaan cemas dan gelisah meninggalkan kesan yang mencekam perasaan. Cara apa pun yang katanya dapat menghapus perasaan was-was itu pada keesokan harinya tidak banyak bermanfaat. Bahkan, sekalipun kita tidak mengalami tekanan perasaan seberat yang dialami wanita tadi, ketakutan-ketakutan (trauma) yang terkubur dalam alam bawah sadar kita menyebabkan kita mudah diserang oleh perasaan cemas dan gelisah itu.

Manusia tanpa kesadaran muraqabatullah akan selalu dahaga, karenanya mereka sangat bernafsu untuk memburu segala sesuatu yang berhubungan dengan hasrat ini. Menyalurkan hasrat rendah ini dalam rel yang berseberangan dengan perintah Allah bukanlah meredakan gairah, tapi malah semakin memacu semangat mendapatkan kemaksiatan yang lain. Faktanya, usaha manusia untuk senantiasa berpacu dalam memenuhi segala hasratnya malah menimbulkan tegangan dan dorongan baru yang harus dikejar dan dipenuhi yaitu “keinginan”.

Keinginan adalah sesuatu yang paradoks: setelah suatu keinginan terpenuhi, timbul keinginan lain untuk segera diselesaikan dan dipenuhi hajatnya. Namun, dalam kerangka kehidupan modern, keinginan haruslah menjadi sesuatu yang tak berujung dan harus selalu diposisikan sebagai pesona yang dapat menyedot hasrat.

Subhanallah, ternyata penderitaan wanita itu tidak berakhir dalam kemaksiatan. Kesetiaannya masih tegak berdiri seperti gunung memaku bumi. Padahal badai hasrat itu begitu kuat seakan tsunami yang melantakkan apa saja. Namun ‘al khauf’ yang menghunjam jiwanya memenangkan Allah atas segalanya. Hatinya dikuasai Allah, kesadaran dzikrullahnya begitu teruji.

Inilah pangkal masalah terbesar yang kita hadapi saat ini yaitu jauh dari Allah, jarang mengingat Allah, dan “dikuasainya” hati kita oleh sesuatu selain Allah. Inilah masalah yang akan mendatangkan banyak masalah lainnya. Saat jauh dari Allah, maka kita akan leluasa berbuat maksiat. Tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada lagi rasa diawasi oleh Allah, sehingga tidak ada lagi yang mengendalikan perilaku kita. Maksiat inilah yang kemudian melahirkan ketidaktenangan, kehinaan, dan kesengsaraan hidup.

Sejak temuan kasus ini, maka Umar bersegera menemui putrinya yang tercinta, Hafshah, kemudian bertanya, “Berapa lama seorang perempuan tahan menunggu suaminya ?“ Dijawablah oleh Hafshah, “empat bulan”. Setelah kejadian tersebut, Umar memerintahkan kepada para panglima perang untuk tidak membiarkan seorangpun dari tentaranya meninggalkan keluarganya lebih dari empat bulan. Begitulah kepedulian sekaligus solusi seorang pemimpin seperti Umar di zamannya.

Kemudian apa yang tengah terjadi dengan wanita kita sekarang, dengan isteri-isteri kita, dengan anak-anak kita bahkan dengan ibu-ibu kita. Kalau keterbatasan teknologi di zaman Umar saja nyaris menggelincirkan iman seorang wanita mukminah, bagaimana dengan kita sekarang? Zaman dimana teknologi telah menyatu dengan kehidupan manusia kalaupun belum bisa dikatakan diperbudak teknologi. Hampir tak ada wilayah privacy yang tidak tersentuh produk teknologi ini, bahkan ketika kita menghadap Allah pun ringtone HP masih menyertai. Industrialisasi yang kapitalistik telah menghantarkan wanita sebagai komoditas. Semangat konsumerisme dipompakan dengan begitu hebat. Pengertian konsumsi yang absurd ini dalam kehidupan modern menjadi arena sosial yang menyedot dan menarik minat energi pelampiasan.

Ia menjelma menjadi medan kesadaran yang harus segera dipenuhi dan dipuaskan kebutuhannya. Identitas diri di hadapan lingkungan sosial yang demikian diperebutkan dan dibentuk oleh produk-produk rayuan melalui citra-citra tertentu yang ditawarkan lewat berbagai media massa: Supaya Anda kelihatan jantan dan macho Anda harus mengisap rokok tertentu. Supaya perempuan kelihatan cantik, pergunakanlah kosmetik merek tertentu. Agar Anda dikategorikan sebagai manusia yang tidak ketinggalan zaman, milikilah atribut artis yang lagi ngetop!

Logikanya adalah jika segala hawa nafsu disalurkan demi pemenuhan kenikmatan, ia dapat menjadi semacam dinamo yang pengoperasiannya bisa dilakukan menjadi tanpa batas sehingga akhirnya ia menjelma menjadi sesuatu yang tidak realistis dan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika para ‘ulama yang shalih, misalnya, memandang manusia seperti ini sebagai manusia yang dibutakan matanya yang hanya tertarik pada kulit ketimbang terpesona untuk mencari dan menemukan isi.

“Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memehami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.” Qs. Al Furqan: 43-44)

Dapat dimengerti jika logika hawa nafsu sanggup memalingkan dan menyamarkan setiap upaya pencarian manusia terhadap nilai-nilai luhur sebab logika hawa nafsu yang mewabah akibat bekerjanya spirit kapitalisme diproduksi oleh apa yang mereka sebut sebagai “mesin hawa nafsu”–sebuah peristilahan psikoanalisis yang mereka gunakan untuk menjelaskan mekanisme produksi “ketidakcukupan” dalam diri seseorang. Keinginan untuk “memiliki” bukan disebabkan “ketidakcukupan alamiah” yang ada dalam diri kita, melainkan hanya untuk memenuhi pencarian identitas yang tidak henti-hentinya. Oleh karena itu, identitas manusia hari ini adalah identitas yang dibangun oleh proses konsumsi dan proses komoditi dari citraan dan rayuan-rayuan media massa.

Iklan-iklan di televisi misalnya, ia beroperasi lewat pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya secara utuh sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebuah wajah merayu yang penuh atribut dan make-up adalah wajah yang kosong tanpa makna sebab penampakan artifisial dan kepalsuannya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan dari kepalsuan dan kesemuan tersebut menjadi sebuah rayuan bagi para pemirsa. Hingga yang muncul dari sebuah rayuan, bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora hawa nafsu: gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.

Sehingga tidak sedikit kita lihat, banyak wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fisik adalah segala-galanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat bila berwajah cantik, kulit yang putih, dan tubuh yang ramping. Maka tidak aneh kalau banyak ditemukan wanita yang mati-matian memperputih kulitnya, mengoperasi plastik bagian tubuhnya, menghambur-hamburkan berjuta-juta uang demi mengejar prestise.

Sementara bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa tereliminasi dari pergaulan. Padahal, kecantikan dan kemolekan tubuh tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia. Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita salehah adalah karena kemampuannya untuk menjaga martabatnya (‘iffah) dengan hijab serta iman dan takwa.

Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri lama jika mempunyai pondasi yang kokoh. Andaikan pondasi sebuah bangunan itu tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun, pasti akan cepat runtuh. Begitu juga dengan iffah yang dimiliki oleh seorang wanita, dengan iman dan takwa merupakan pondasi dasar untuk meraih kemulian-kemulian lain.

Dengan iffah, seorang muslimah akan selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Sebagaimana terukir dalam hadis Nabi Saw. : ”Malu dan iman itu saling bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilanglah bagian yang lain.” (HR. Hakim dan At-Thabari).

Adanya rasa malu, membuat segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga dengan akhlak yang dimiliki, ia lebih harum daripada kesturi.

Dengan iffah, seorang muslimah akan sadar betul bagaimana cara bersikap dan bertutur kata. Tidak ada dalam sejarah, seorang wanita salehah centil, suka jingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian mutu manikam yang penuh makna bermutu tinggi.

Tengoklah figur-figur mulia yang mendapatkan tempat terhormat di tengah-tengah umat hingga kini. Khadijah ra. misalnya, namanya terus berkibar sampai sekarang, bahkan setiap anak wanita dianjurkan untuk meneladaninya.

Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun karena pengorbanannya yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Begitu pun Aisyah ra., salah seorang istri Nabi dan juga seorang cendikiawan muda. Darinya para sahabat mendapat banyak ilmu. Ada pula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi di perang Yarmuk, hanya dengan sebilah tiang kemah. Masih banyak wanita mulia yang berkarya untuk umat pada masa-masa berikutnya. Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan mengembangkan kualitas diri, menjaga iffah (martabat), dan memelihara diri dari kemaksiatan. Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri, bukan fisik. Sinar inilah yang lebih abadi.


Artikel dicetak dari situs dakwatuna.com: http://www.dakwatuna.com

URL ke artikel: http://www.dakwatuna.com/index.php/kaifa-ihtadaitu/2007/kemuliaan-di-ujung-malam/

Komentar bertahan »

Seandainya Kulakukan Sejak Dulu…

Oleh Rahma Alizhra

Kapan pertama kali atau terakhir kalinya, anda pulang kampung? Lebaran tahun lalu? 2 bulan yang lalu ketika saudara menikah? Atau minggu lalu, sekedar melepas rindu dengan orang tua, kakek nenek atau teman kecil. Lalu seberapa sering anda pulang kampung? 1 kali setahun ketika Lebaran? Dua kali setahun saat liburan sekolah? Atau sebulan sekali karena jarak tempuh yang tidak jauh?Dua pekan yang lalu, tanpa sebuah rencana, akhirnya saya merasakan bagaimana pulang kampung dalam arti yang sesungguhnya. Dan itu membutuhkan waktu 30 tahun!Mengikuti garis keturunan dari ayah, maka Bua, salah satu kabupaten di kotamadya Palopo, Makassar – Sulawesi Selatan adalah kampung halaman saya. Menghabiskan waktu 6 – 8 jam perjalanan darat untuk menempuh jarak +/- 330 km dari kota Makassar. Mungkin, karena tidak seberapa dekat dengan kerabat dari pihak ayah, maka keinginan untuk menginjak tanah leluhur tidak pernah menggoda hati saya. Bahkan walaupun keluarga besar ayah berulang kali meminta saya, kakak – kakak atau ayah untuk pulang kampung, selalu kami tolak dengan alasan klise: sibuk kerjaan dan pertimbangan materi.Namun telepon yang mengabarkan seorang kakak sepupu yang sakit keras, akhirnya membuat saya melupakan pertimbangan-pertimbangan yang selalu menghambat keputusan untuk melihat tanah kelahiran ayah. Selain rasa empati yang besar, melepaskan ayah untuk pergi sendiri sepertinya juga akan meninggalkan kesan tidak baik bagi kami, anak-anaknya, di mata keluarga besar ayah.Bintang mulai menampakkan dirinya ketika kaki ini melangkah di halaman sebuah rumah. Dua buah tenda besar melindungi kursi-kursi yang berjejer di halaman rumah. Sebuah bendera kain berwana putih, diikatkan pada kursi yang sengaja diletakkan di pinggir jalan raya. Tanda berduka sang pemilik rumah. Ya…, kakak sepupu saya telah dimakamkan ba’da Dzuhur, siang tadi.Dari setiap kerabat yang menyambut saya dan ayah, ada persamaan yang tampak di wajah mereka. Sebuah senyuman bahagia melihat kedatangan saya yang memang sangat dinanti. Dan mata yang berkaca seakan berbicara akan kedukaan setelah melepas pergi seorang yang dicinta.Lelah yang masih menghinggapi tubuh ini pun sepertinya harus dilupakan selama saya berada di kampung halaman karena harus mengikuti acara takzia selama 3 hari dan bersilahturahim dengan keluarga besar ayah.Dari seorang lelaki tua berusia 90 tahun lebih namun cukup saya panggil dengan sebutan ‘Om’ hingga seorang bocah lelaki berusia 3 tahun yang ternyata harus memanggil saya dengan sebutan ‘Nenek’. Dan seperti yang saya temukan di saat pertama kali berada di rumah ini, tetap ada kesan bahagia di antara kesedihan yang terpancar di muka kerabat ayah saya. Dan ini membuat saya berfikir… Hingga saat ini.Ternyata saya menghilangkan waktu 30 tahun untuk mendapatkan kesempatan yang begitu besar untuk menabuhkan cinta di antara saudara dan kerabat. Menghilangkan kesempatan untuk membahagiakan orang tua dan kerabat.Saya tahu, ada kebanggaan dan kebahagiaan di mata ayah saya dan kerabat ketika saya diperkenalkan kepada mereka. Karena senyuman manis, jabat tangan erat dan pelukan hangat hampir selalu saya dapatkan dari mereka. Tak hanya itu, begitu banyak cinderamata yang tak terduga yang diberikan oleh mereka, ketika saya harus kembali ke Jakarta. Padahal saya tahu, hati mereka masih berduka. Namun mereka tetap ingin memberikan kenangan yang terbaik untuk saya.Tiba-tiba rasa malu menghujani hati saya. Malu dengan sejuta alasan yang selalu menghambat saya untuk pulang kampung, bersilahturahim dengan mereka. Malu, karena ternyata silahturahmi yang tertunda itu tetap memberikan berjuta kebahagiaan di diri saya.Ya Robb, seandainya saya lakukan ini dari dulu… Tanpa harus menunggu 30 tahun lamanya…

Komentar bertahan »

EnGkaU dPt BeRMaksIaT, jiKa Dpt MemeNuHI 5 sYAraT Brkt :

ENgkAu YaKIn REzeKI yg kaU PeRolEh BUkAn DaRi-Nya

PaSTiKaN EnGkaU TIdaK MeNGInJak BuMi-Nya

ENgkaU yAKin Tidak dILiHAt-Nya

          EnGkAu yaKiN tIdAk AkaN dimaSukKan ke NeRAka-Nya

YakIN MAlaiKAt ZabaNIyAh tidAK aKAn MeNYiksAmu

Komentar (2) »

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah,

Selamat Datang dan Bergabung Dalam Blog Ini

Saya persilahkan teman-teman memberi artikel, komentar, de – el – el yang penting bermanfaat bagi kita semua.

Komentar (1) »