Subhanallah adalah kata-kata yang paling pantas terucapkan ketika kami berkumpul bareng sehari setelah meninggalnya Ibunda kami… kenapa ???
karena dari situlah semua cerita dan kisah bermula…
kami baru sadar, saat kami 6 bersaudara masih kecil, semua masih berkumpul jadi satu rumah dan ada saudara kami laki-laki yang terkenal “bandel”. namun ketika usia kami sudah menginjak dewasa, 5 dari kami yang sudah berkeluarga meninggalkan kampung halaman tersebar di seluruh daerah di indonesia. tinggal saudara kami yang katanya “bandel” tadi tinggal di rumah bersama Ibu kami yang sudah sendirian sejak di tinggal Ayahanda tercinta awal tahun 2000. setiap saat kami menyambung komunikasi dengan keluarga di kampung lewat pesawat telepon (diluar lebaran). namun secara tak sengaja kami selama ini hanya mencari dan ngobrol dengan Ibunda, jarang sekali dengan saudara kami yang katanya “bandel” tadi… hal itu terkesan kami menjadikan saudara kami sebagai seorang yang “bandel” dan tidak perlu di cari dan di ajak ngomong…padahal mungkin tidak demikian.
hal itu berlanjut hampir setiap saat, namun akhir-akhir ini kami sering di ingatkan sama saudara yang lain untuk senantiasa juga menjaga komunikasi dengan saudara yang masih serumah dengan ibunda… puncaknya ketika akhir maret kesehatan Ibunda mulai tidak stabil, ternyata selama ini hanya kakak kami yang “bandel” tadi yang dengan sabar merawat Ibunda, menyediakan keperluannya… disaat saudaranya yang lain sibuk dengan urusanya masing-masing… (tak kuasa menahan air mata). hingga tgl 31 Maret 2008 pukul 21.00 WIB dengan terpaksa Ibunda di bawa ke Rumah Sakit (RS) dan dinyatakan sakit jantung… namun 3 jam ke depan masih stabil dan Alhamdulillah, beliau masih menyempatkan sholat Isya’ (menjadi sholat terakhirnya) di kala napasnya tersengal-sengal dan degup jantungnya yang msh labil. di akhir sholatnya beliau sempat memanjatkan do’a dan akhirnya sudah tidak sempurna do’anya hingga beliau koma sekitar jam 01.00 WIB tanggal 1 April 2008 dengan tetap di talqim (di tuntun) untuk mengucapkan kalimat thayibah. saudara kami yang setia menemani Ibunda menginformasikan kepada semua saudaranya atas kondisi Ibunda yang sudah koma. sambil terus memegangi ibunda yang koma selama 45 menit, akhirnya saudara kami melihat detik-detik terakhir Ibunda menghembuskan nafas terakhirnya dan terucaplah “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un”.
ya subhanallah, saudara kami yang notabene di cap “nakal” ternyata sangat setia dan sabar serta menjadi satu-satunya putra yang menemani beliau di saat akhirnya menghadap Sang Pemilik alam semesta Allah SWT… semoga kami semua menjadi sadar atas peristiwa ini.
Note : Kisah Nyata – sebuah kesaksian





ario dipoyono berkata,
April 18, 2008 @ 10:52 am
Semoga di beri kesabaran….
aza berkata,
Mei 31, 2008 @ 8:47 am
terimkasih bang aryo atas nasehatnya…
Antithetical berkata,
Juni 19, 2008 @ 8:35 pm
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Antithetical!
aza berkata,
Juni 21, 2008 @ 10:13 am
thanks …Mr./Mrs./Miss antithetical…
i wanna visit your blog too…