Arsip untuk Renungan

Bersabarlah Saudaraku di Gaza…

Bersabarlah Saudaraku di Gaza
Senin, 21 Jan 08 03:55 WIB

Hari-Hari seperti ini. Lemparkanlah khayalan Kita saat bersama ibu Dan bapak. Isteri Dan anak-anak. Di sebuah malam di bawah langit yang jernih. Saat Kita semua Ada dalam satu rumah. Tapi rumah Kita itu, sudah tak lagi berpintu, Dan tak mempunyai jendela. Tak Ada air. Tak Ada listrik..
Anak-anak Kita menangis karena lapar Dan dingin. Isteri Kita juga begitu menderita karena sakit namun tak bisa membeli obat. Bukan hanya karena tak Ada biaya untuk membelinya, tapi juga karena tak Ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya. Orang tuamu, keduanya sudah renta Dan ringkih. Juga tengah dililit lapar. Tubuh mereka sudah lemah Dan penyakitnya kian Hari terus bertambah.
Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Mampukah kita seperti lelaki itu ???

Base on True Story..


Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,usia yg sudah
senja
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya
diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.mereka
menikah
sudah lebih 32 tahunMereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan
menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak
bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun,menginjak tahun ke tiga
seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun
sudah
tidak bisa digerakkan lagi.
Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Lowongan di Akhirat

Posted by lenteraimpian in renungan.

Sebuah lowongan istimewa telah dipersiapkan sebelum alam ini diciptakan. Lowongan ini terbuka bagi semua orang tanpa pengecualian, tanpa melihat pengalaman kerja, tanpa ijazah, tanpa koneksi. Lowongan ini terbuka bagi semua pengangguran maupun yang sedang bekerja dengan latar belakang apapun, baik direktur, gubernur, tukang becak, perampok, koruptor, pembunuh, pendeta, kyai, para dermawan, dll.
Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR

*DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR*

Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari
kalangan bangsa Romawi.
Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan
berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan
ulama Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia
yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia
menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.

Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu
Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : “Inilah
saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan”.
Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap
merendahkan diri karena usianya yang masih muda.
Abu Hanifah berkata, “sekarang apa yang akan kita perdebatkan! “.

Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai
pertanyaannya :

Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula
melahirkan”.

Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan
tidak ada sesuatu sebelum-Nya? , pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.

Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?

Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?

Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang
mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang
hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?

Atheis : Dimanakah Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada
tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu
keju?

Atheis : Ya, sudah tentu.
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya
keju itu sekarang?

Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan
bercampur dengan susu di seluruh bagian.
Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu
tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah
Ta’ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!

Atheis :Tunjukkan kepada kami zat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti
besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?

Atheis :Ya, pernah.
Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan
tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak
bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?

Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?

Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah: Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti
besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas?

Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk
roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk
mengutarakan zat Allah Ta’ala?!!

Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala
sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah
manakah sinar lampu itu menghadap?

Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu,
bagaimana dengan Allah Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya
langit dan bumi.

Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada
akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.

Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air
kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan.
Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang
air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah
keluar beberapa saat ke dunia.

Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan
habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan
malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu
kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.

“Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang
sedang Allah kerjakan sekarang?” tanya Atheis.
“Tuan menjawab pertanyaan-pertanya an saya dari atas mimbar, sedangkan saya
menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya
mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”,
pinta Abu Hanifah.

Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.
“Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa
pekerjaan Allah sekarang?”.
Ilmuwan kafir mengangguk.
” Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan.
Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri
seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti
sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan
segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan
Allah setiap waktu”.

Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu
pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan
keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah.
*Salah satu tugas agama ialah memelihara akal.*
*Memelihara akal ialah dengan jalan menambah ilmu melatih diri berfikir &
merenungkannya. *
*( Hamka)*

Komentar bertahan »

Ayo Perangi Narkoba (Candu) !!!

Perang Candu Episode Keempat

Kartono Mohamad

Pada awal abad ke-19 Inggris kewalahan dalam neraca perdagangan dengan China. Inggris memerlukan teh dan sutra dari China, tetapi China tidak membutuhkan produk Inggris dan hanya mau dibayar tunai. Ini membuat cadangan dana Inggris berkurang.

Maka dicari siasat lain, meniru yang dilakukan Belanda terhadap penduduk Jawa tahun 1700-an. Saat itu Belanda memperkenalkan candu kepada penduduk Jawa, membuatnya ketagihan sehingga bersedia menjual hasil bumi dan tanahnya dengan harga amat murah. Selain kebutuhan rakyat China akan candu meningkat sehingga menguntungkan Inggris, rakyat China juga menjadi hancur karena ketagihan.

Mengetahui efek candu yang merusak rakyatnya, Raja China saat itu langsung menyetop masukan candu. Bahkan China kemudian menutup semua pelabuhannya bagi kapal-kapal dagang Eropa, kecuali Pelabuhan Kanton.

Atas perlakuan ini dan melihat tingginya tingkat ketagihan rakyat China akan candu, Inggris berani menyatakan perang. Satu per satu kota di sepanjang Sungai Yangtze jatuh ke tangan Inggris dan akhirnya China menyerah. Itu adalah episode pertama Perang Candu yang berlangsung tahun 1834-1842.

Melihat keberhasilan ini, negara-negara Barat lain mengikuti jejak Inggris. Semula China menolak dan hanya mematuhi perjanjian yang ditekankan Inggris. Meski bukan karena ingin dagang candu, perang China dengan Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Rusia di tahun 1850-an disebut sebagai Perang Candu karena rakyat China terus diperlemah melalui candu.

Sekali lagi, sekutu berhasil menekankan keinginannya secara sepihak. Kembali China harus tunduk kepada berbagai ketentuan yang menguntungkan negara-negara itu. Itulah Perang Candu episode kedua. Baik episode pertama maupun kedua, tujuannya bukan untuk menjadikan China jajahan negara-negara Barat, tetapi lebih kepada kepentingan perdagangan yang menguntungkan Barat, sekaligus melemahkan ketahanan rakyat China.

Perang Candu episode ketiga adalah seperti diceritakan Perdana Menteri Zhou Enlai kepada H Heikal (dalam buku Biografi Nasser). Menurut Heikal, Zhou Enlai (saat itu Perang Vietnam sedang pada puncaknya) mengatakan, ia akan menggunakan strategi perang candu dalam menghadapi AS. “Kalau dulu rakyat China dilemahkan melalui candu, kini kami akan melemahkan tentara AS dengan candu.”

Maka secara berangsur tentara AS di Vietnam dibuat ketagihan candu, dan ganja, sehingga moral mereka hancur. Ucapan Zhou Enlai itu terbukti dengan kalahnya AS dalam perang Vietnam meski dalam persenjataan jauh lebih unggul. Inilah Perang Candu episode ketiga. Kali ini tujuannya lebih kepada tujuan kemenangan militer dan politik daripada perdagangan.

Episode keempat

Episode ini adalah perang candu yang lebih subtil tetapi berdampak lebih lama, dan tujuan utamanya lebih kepada dominasi ekonomi. Namun, jika perlu, mungkin dapat digunakan untuk tujuan politik ataupun militer. Episode inilah yang saat ini sedang berlangsung. Perang candu kali ini tidak hanya dilakukan dengan candu (morfin), tetapi juga dengan zat-zat lain yang dapat menimbulkan kecanduan. Caranya pun jauh lebih halus sehingga pemerintah di negara sasaran tidak merasa dikendalikan, bahkan ikut kecanduan dari hasil perdagangan zat itu.

Zat adiktif yang dipakai pun secara legal boleh diperdagangkan, yaitu tembakau. Semua orang tahu, tembakau merupakan zat yang dapat menimbulkan kecanduan. Juga diketahui, kecanduan rokok merupakan pintu masuk kecanduan narkotika.

Dalam pertemuan ASEAN untuk memerangi narkotika di Myanmar tahun 2005 lalu, seorang pakar dari Thailand menunjukkan hasil penelitian, 90 persen pencandu narkotika bermula dari kecanduan rokok, terutama jika kecanduan itu terjadi sejak usia anak-anak. Karena itu, disimpulkan, kalau mau memerangi kecanduan narkotika di kalangan remaja, harus diawali dengan memerangi kecanduan rokok di usia anak-anak.

Kini banyak negara, termasuk yang memproduksi tembakau dan rokok, melakukan pembatasan perdagangan rokok terutama untuk anak-anak. AS termasuk negara yang memproduksi rokok dan tembakau, tetapi melakukan pembatasan ketat di dalam negerinya. Mereka mendorong agar produk rokok diekspor ke negara lain, terutama yang tidak menyadari bahaya rokok bagi generasi muda.

Indonesia

Indonesia adalah negara penghasil tembakau dan rokok yang ingin menjadikan industri rokok sebagai industri unggulan. Untuk diekspor? Tentu tidak karena banyak negara yang kian ketat membatasi impor rokok. Jadi untuk konsumsi dalam negeri. Pemerintah, misalnya, enggan menaikkan cukai rokok dan memilih meningkatkan produksi untuk dapat meningkatkan pendapatan dari rokok (Kompas, 20/9/2007). Tujuannya, bagaimana pendapatan negara naik dan rakyat miskin dapat membeli rokok.

Konsekuensi peningkatan produksi adalah peningkatan pemasaran agar produk itu laku. Karena yang sudah kecanduan tidak perlu didorong lagi, perlu dicari konsumen baru, yaitu anak-anak dan remaja, karena sekali kecanduan, seumur hidup ia akan membeli rokok. Pemerintah tentu akan mendukung upaya pemasaran ini karena ingin menjadikan industri rokok sebagai unggulan. Akan makin banyak rakyat lebih memilih membeli rokok daripada menyekolahkan anak atau membeli protein untuk anaknya.

Cita-cita pemerintah menjadikan industri rokok menjadi unggulan tercapai, dengan mengorbankan generasi mendatang. Jumlah pencandu narkoba di antara remaja pun akan meningkat. Mereka akan makin lemah dan bangsa ini akan makin mudah dipaksa tunduk pada bangsa lain.

Kita akan kalah dalam perang candu episode keempat, bukan karena tekanan bangsa lain, tetapi karena pemerintah kita sendiri. Pemilik pabrik rokok akan makin kaya (tiga dari lima orang terkaya di Indonesia adalah pemilik pabrik rokok) dari uang orang miskin yang kecanduan rokok. Para elite politik hanya memikirkan kepentingan jangka pendeknya demi dukungan industri dalam kampanye tahun depan. Soal kesejahteraan rakyat dan ketahanan nasional? I don’t care.

Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

digg_url = ‘WEBSITE_URL’;

 

Komentar bertahan »

Kemuliaan di Ujung Malam

Kemuliaan di Ujung Malam

Oleh Aidil Heryana, S.Sosi | 13 November 2007 @ 17:46 | 3/Dzulqaidah/1428 H | Kategori: Kaifa Ihtadaitu

Malam kian larut berselimut gulita
T’lah sekian lama tiada kekasih kucumbu
Demi Allah, bila bukan karena mengingat-Mu
Niscaya ranjang ini t’lah bergoyang
Namun duhai rabbi,
Rasa malu telah menghalangiku…

Hari demi hari berlalu tanpa kesan apa pun, semua dirasakan kosong, semua berlalu secepat petir yang singgah hanya dalam hujan sehari. Perasaan itu seakan berteriak kencang ‘aku butuh teman’….tapi tak seorang pun mampu mendengarnya, lalu dipejamkan matanya, berpikir…’aku dalam kesendirian’.Kungkungan sunyi dan kehampaan hati itu seakan bertanya, adakah seseorang yang mau berbagi. Berbagi dalam suka dan duka, tak peduli pagi, siang dan malam. Dia membutuhkan semua itu, merindukan saat-saat indah itu. Saat ketika rindu menyapa yang membawanya jauh dengan perasaan itu, hasrat itu.

Wanita itu termenung di balik jendela kamarnya. Tatapan matanya kosong. Sementara suasana malam terasa begitu mencekam: dingin dan sepi. Suami tercinta berada di negeri jauh melaksanakan tugas khalifah di medan jihad. Wanita itu nyaris frustrasi karena pertahanan diri mulai terganggu. Wanita shalihah yang tinggal di pinggiran madinah ini lebih suka sendirian dalam kamarnya. Ia seakan hilang dari kehidupan ramai. Apalagi sewaktu udara begitu dingin menusuk tulang. Berkawankan sepi dan dingin, namun dalam suasana demikian mampukah wanita itu melahirkan muraqabatullah.

Syair itu menggambarkan pergulatan batin yang luar biasa, dilantunkan seorang perempuan di zaman Umar bin Khatab. Waktu itu, Umar sedang berkeliling kota dalam kegelapan malam. Dalam perjalanan rutin itu, sampailah beliau ke dekat rumah seorang perempuan yang sedang menahan gejolak biologisnya karena ditinggal berjihad suaminya dalam waktu yang lama. Untuk sekedar menghibur diri sendiri dalam kesepian yang begitu sangat, terlantunkanlah syair itu yang kemudian didengar oleh Umar.
Keterpisahan dengan suami tercinta dalam waktu lama, kesepian, kegelapan malam melambangkan kesuraman yang melanda jiwanya. Kesulitan untuk tidur pada waktu itu mungkin merupakan pengalaman terburuk yang pernah dijumpainya. Penderitaan yang paling menyiksa bagi seseorang yang mengalami kesepian.

Orang yang terjaga dari tidurnya di tengah-tengah kesunyian malam, sangat mudah dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Bayang-bayang mimpi yang mendatangkan perasaan cemas dan gelisah meninggalkan kesan yang mencekam perasaan. Cara apa pun yang katanya dapat menghapus perasaan was-was itu pada keesokan harinya tidak banyak bermanfaat. Bahkan, sekalipun kita tidak mengalami tekanan perasaan seberat yang dialami wanita tadi, ketakutan-ketakutan (trauma) yang terkubur dalam alam bawah sadar kita menyebabkan kita mudah diserang oleh perasaan cemas dan gelisah itu.

Manusia tanpa kesadaran muraqabatullah akan selalu dahaga, karenanya mereka sangat bernafsu untuk memburu segala sesuatu yang berhubungan dengan hasrat ini. Menyalurkan hasrat rendah ini dalam rel yang berseberangan dengan perintah Allah bukanlah meredakan gairah, tapi malah semakin memacu semangat mendapatkan kemaksiatan yang lain. Faktanya, usaha manusia untuk senantiasa berpacu dalam memenuhi segala hasratnya malah menimbulkan tegangan dan dorongan baru yang harus dikejar dan dipenuhi yaitu “keinginan”.

Keinginan adalah sesuatu yang paradoks: setelah suatu keinginan terpenuhi, timbul keinginan lain untuk segera diselesaikan dan dipenuhi hajatnya. Namun, dalam kerangka kehidupan modern, keinginan haruslah menjadi sesuatu yang tak berujung dan harus selalu diposisikan sebagai pesona yang dapat menyedot hasrat.

Subhanallah, ternyata penderitaan wanita itu tidak berakhir dalam kemaksiatan. Kesetiaannya masih tegak berdiri seperti gunung memaku bumi. Padahal badai hasrat itu begitu kuat seakan tsunami yang melantakkan apa saja. Namun ‘al khauf’ yang menghunjam jiwanya memenangkan Allah atas segalanya. Hatinya dikuasai Allah, kesadaran dzikrullahnya begitu teruji.

Inilah pangkal masalah terbesar yang kita hadapi saat ini yaitu jauh dari Allah, jarang mengingat Allah, dan “dikuasainya” hati kita oleh sesuatu selain Allah. Inilah masalah yang akan mendatangkan banyak masalah lainnya. Saat jauh dari Allah, maka kita akan leluasa berbuat maksiat. Tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada lagi rasa diawasi oleh Allah, sehingga tidak ada lagi yang mengendalikan perilaku kita. Maksiat inilah yang kemudian melahirkan ketidaktenangan, kehinaan, dan kesengsaraan hidup.

Sejak temuan kasus ini, maka Umar bersegera menemui putrinya yang tercinta, Hafshah, kemudian bertanya, “Berapa lama seorang perempuan tahan menunggu suaminya ?“ Dijawablah oleh Hafshah, “empat bulan”. Setelah kejadian tersebut, Umar memerintahkan kepada para panglima perang untuk tidak membiarkan seorangpun dari tentaranya meninggalkan keluarganya lebih dari empat bulan. Begitulah kepedulian sekaligus solusi seorang pemimpin seperti Umar di zamannya.

Kemudian apa yang tengah terjadi dengan wanita kita sekarang, dengan isteri-isteri kita, dengan anak-anak kita bahkan dengan ibu-ibu kita. Kalau keterbatasan teknologi di zaman Umar saja nyaris menggelincirkan iman seorang wanita mukminah, bagaimana dengan kita sekarang? Zaman dimana teknologi telah menyatu dengan kehidupan manusia kalaupun belum bisa dikatakan diperbudak teknologi. Hampir tak ada wilayah privacy yang tidak tersentuh produk teknologi ini, bahkan ketika kita menghadap Allah pun ringtone HP masih menyertai. Industrialisasi yang kapitalistik telah menghantarkan wanita sebagai komoditas. Semangat konsumerisme dipompakan dengan begitu hebat. Pengertian konsumsi yang absurd ini dalam kehidupan modern menjadi arena sosial yang menyedot dan menarik minat energi pelampiasan.

Ia menjelma menjadi medan kesadaran yang harus segera dipenuhi dan dipuaskan kebutuhannya. Identitas diri di hadapan lingkungan sosial yang demikian diperebutkan dan dibentuk oleh produk-produk rayuan melalui citra-citra tertentu yang ditawarkan lewat berbagai media massa: Supaya Anda kelihatan jantan dan macho Anda harus mengisap rokok tertentu. Supaya perempuan kelihatan cantik, pergunakanlah kosmetik merek tertentu. Agar Anda dikategorikan sebagai manusia yang tidak ketinggalan zaman, milikilah atribut artis yang lagi ngetop!

Logikanya adalah jika segala hawa nafsu disalurkan demi pemenuhan kenikmatan, ia dapat menjadi semacam dinamo yang pengoperasiannya bisa dilakukan menjadi tanpa batas sehingga akhirnya ia menjelma menjadi sesuatu yang tidak realistis dan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika para ‘ulama yang shalih, misalnya, memandang manusia seperti ini sebagai manusia yang dibutakan matanya yang hanya tertarik pada kulit ketimbang terpesona untuk mencari dan menemukan isi.

“Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memehami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.” Qs. Al Furqan: 43-44)

Dapat dimengerti jika logika hawa nafsu sanggup memalingkan dan menyamarkan setiap upaya pencarian manusia terhadap nilai-nilai luhur sebab logika hawa nafsu yang mewabah akibat bekerjanya spirit kapitalisme diproduksi oleh apa yang mereka sebut sebagai “mesin hawa nafsu”–sebuah peristilahan psikoanalisis yang mereka gunakan untuk menjelaskan mekanisme produksi “ketidakcukupan” dalam diri seseorang. Keinginan untuk “memiliki” bukan disebabkan “ketidakcukupan alamiah” yang ada dalam diri kita, melainkan hanya untuk memenuhi pencarian identitas yang tidak henti-hentinya. Oleh karena itu, identitas manusia hari ini adalah identitas yang dibangun oleh proses konsumsi dan proses komoditi dari citraan dan rayuan-rayuan media massa.

Iklan-iklan di televisi misalnya, ia beroperasi lewat pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya secara utuh sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebuah wajah merayu yang penuh atribut dan make-up adalah wajah yang kosong tanpa makna sebab penampakan artifisial dan kepalsuannya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan dari kepalsuan dan kesemuan tersebut menjadi sebuah rayuan bagi para pemirsa. Hingga yang muncul dari sebuah rayuan, bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora hawa nafsu: gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.

Sehingga tidak sedikit kita lihat, banyak wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fisik adalah segala-galanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat bila berwajah cantik, kulit yang putih, dan tubuh yang ramping. Maka tidak aneh kalau banyak ditemukan wanita yang mati-matian memperputih kulitnya, mengoperasi plastik bagian tubuhnya, menghambur-hamburkan berjuta-juta uang demi mengejar prestise.

Sementara bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa tereliminasi dari pergaulan. Padahal, kecantikan dan kemolekan tubuh tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia. Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita salehah adalah karena kemampuannya untuk menjaga martabatnya (‘iffah) dengan hijab serta iman dan takwa.

Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri lama jika mempunyai pondasi yang kokoh. Andaikan pondasi sebuah bangunan itu tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun, pasti akan cepat runtuh. Begitu juga dengan iffah yang dimiliki oleh seorang wanita, dengan iman dan takwa merupakan pondasi dasar untuk meraih kemulian-kemulian lain.

Dengan iffah, seorang muslimah akan selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Sebagaimana terukir dalam hadis Nabi Saw. : ”Malu dan iman itu saling bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilanglah bagian yang lain.” (HR. Hakim dan At-Thabari).

Adanya rasa malu, membuat segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga dengan akhlak yang dimiliki, ia lebih harum daripada kesturi.

Dengan iffah, seorang muslimah akan sadar betul bagaimana cara bersikap dan bertutur kata. Tidak ada dalam sejarah, seorang wanita salehah centil, suka jingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian mutu manikam yang penuh makna bermutu tinggi.

Tengoklah figur-figur mulia yang mendapatkan tempat terhormat di tengah-tengah umat hingga kini. Khadijah ra. misalnya, namanya terus berkibar sampai sekarang, bahkan setiap anak wanita dianjurkan untuk meneladaninya.

Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun karena pengorbanannya yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Begitu pun Aisyah ra., salah seorang istri Nabi dan juga seorang cendikiawan muda. Darinya para sahabat mendapat banyak ilmu. Ada pula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi di perang Yarmuk, hanya dengan sebilah tiang kemah. Masih banyak wanita mulia yang berkarya untuk umat pada masa-masa berikutnya. Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan mengembangkan kualitas diri, menjaga iffah (martabat), dan memelihara diri dari kemaksiatan. Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri, bukan fisik. Sinar inilah yang lebih abadi.


Artikel dicetak dari situs dakwatuna.com: http://www.dakwatuna.com

URL ke artikel: http://www.dakwatuna.com/index.php/kaifa-ihtadaitu/2007/kemuliaan-di-ujung-malam/

Komentar bertahan »

Seandainya Kulakukan Sejak Dulu…

Oleh Rahma Alizhra

Kapan pertama kali atau terakhir kalinya, anda pulang kampung? Lebaran tahun lalu? 2 bulan yang lalu ketika saudara menikah? Atau minggu lalu, sekedar melepas rindu dengan orang tua, kakek nenek atau teman kecil. Lalu seberapa sering anda pulang kampung? 1 kali setahun ketika Lebaran? Dua kali setahun saat liburan sekolah? Atau sebulan sekali karena jarak tempuh yang tidak jauh?Dua pekan yang lalu, tanpa sebuah rencana, akhirnya saya merasakan bagaimana pulang kampung dalam arti yang sesungguhnya. Dan itu membutuhkan waktu 30 tahun!Mengikuti garis keturunan dari ayah, maka Bua, salah satu kabupaten di kotamadya Palopo, Makassar – Sulawesi Selatan adalah kampung halaman saya. Menghabiskan waktu 6 – 8 jam perjalanan darat untuk menempuh jarak +/- 330 km dari kota Makassar. Mungkin, karena tidak seberapa dekat dengan kerabat dari pihak ayah, maka keinginan untuk menginjak tanah leluhur tidak pernah menggoda hati saya. Bahkan walaupun keluarga besar ayah berulang kali meminta saya, kakak – kakak atau ayah untuk pulang kampung, selalu kami tolak dengan alasan klise: sibuk kerjaan dan pertimbangan materi.Namun telepon yang mengabarkan seorang kakak sepupu yang sakit keras, akhirnya membuat saya melupakan pertimbangan-pertimbangan yang selalu menghambat keputusan untuk melihat tanah kelahiran ayah. Selain rasa empati yang besar, melepaskan ayah untuk pergi sendiri sepertinya juga akan meninggalkan kesan tidak baik bagi kami, anak-anaknya, di mata keluarga besar ayah.Bintang mulai menampakkan dirinya ketika kaki ini melangkah di halaman sebuah rumah. Dua buah tenda besar melindungi kursi-kursi yang berjejer di halaman rumah. Sebuah bendera kain berwana putih, diikatkan pada kursi yang sengaja diletakkan di pinggir jalan raya. Tanda berduka sang pemilik rumah. Ya…, kakak sepupu saya telah dimakamkan ba’da Dzuhur, siang tadi.Dari setiap kerabat yang menyambut saya dan ayah, ada persamaan yang tampak di wajah mereka. Sebuah senyuman bahagia melihat kedatangan saya yang memang sangat dinanti. Dan mata yang berkaca seakan berbicara akan kedukaan setelah melepas pergi seorang yang dicinta.Lelah yang masih menghinggapi tubuh ini pun sepertinya harus dilupakan selama saya berada di kampung halaman karena harus mengikuti acara takzia selama 3 hari dan bersilahturahim dengan keluarga besar ayah.Dari seorang lelaki tua berusia 90 tahun lebih namun cukup saya panggil dengan sebutan ‘Om’ hingga seorang bocah lelaki berusia 3 tahun yang ternyata harus memanggil saya dengan sebutan ‘Nenek’. Dan seperti yang saya temukan di saat pertama kali berada di rumah ini, tetap ada kesan bahagia di antara kesedihan yang terpancar di muka kerabat ayah saya. Dan ini membuat saya berfikir… Hingga saat ini.Ternyata saya menghilangkan waktu 30 tahun untuk mendapatkan kesempatan yang begitu besar untuk menabuhkan cinta di antara saudara dan kerabat. Menghilangkan kesempatan untuk membahagiakan orang tua dan kerabat.Saya tahu, ada kebanggaan dan kebahagiaan di mata ayah saya dan kerabat ketika saya diperkenalkan kepada mereka. Karena senyuman manis, jabat tangan erat dan pelukan hangat hampir selalu saya dapatkan dari mereka. Tak hanya itu, begitu banyak cinderamata yang tak terduga yang diberikan oleh mereka, ketika saya harus kembali ke Jakarta. Padahal saya tahu, hati mereka masih berduka. Namun mereka tetap ingin memberikan kenangan yang terbaik untuk saya.Tiba-tiba rasa malu menghujani hati saya. Malu dengan sejuta alasan yang selalu menghambat saya untuk pulang kampung, bersilahturahim dengan mereka. Malu, karena ternyata silahturahmi yang tertunda itu tetap memberikan berjuta kebahagiaan di diri saya.Ya Robb, seandainya saya lakukan ini dari dulu… Tanpa harus menunggu 30 tahun lamanya…

Komentar bertahan »

EnGkaU dPt BeRMaksIaT, jiKa Dpt MemeNuHI 5 sYAraT Brkt :

ENgkAu YaKIn REzeKI yg kaU PeRolEh BUkAn DaRi-Nya

PaSTiKaN EnGkaU TIdaK MeNGInJak BuMi-Nya

ENgkaU yAKin Tidak dILiHAt-Nya

          EnGkAu yaKiN tIdAk AkaN dimaSukKan ke NeRAka-Nya

YakIN MAlaiKAt ZabaNIyAh tidAK aKAn MeNYiksAmu

Komentar (2) »