Syariat Demokrasi

Oleh Adhie M. Massardi
LURAH milih sendiri. Bupati milih sendiri. Gubernur milih sendiri. Presiden
milih sendiri. Untuk wakil di legislatif sebagai pembuat aturan, baik tingkat
kabupaten maupun nasional, kita juga milih sendiri. Itulah demokrasi. Sistem
pemerintahan prasmanan. Jalan yang kita pilih setelah kekuasaan Pak Harto
digiling reformasi.

Kini muncul pertanyaan, kenapa hidup kita justru jadi tambah susah? Apakah
demokrasi pilihan yang salah? Pertanyaan ini terus menggoda kita. Jangankan
kita, para aktor politik nasional pun tak bisa menjawab. Muladi yang gubernur
Lemhanas juga bingung.
Padahal, dia pernah jadi menteri, rektor, sekaligus guru besar Undip, perguruan
tinggi ternama di Jawa Tengah. Gelarnya profesor doktor, masih ada SH-nya pula.
Karena bingung, dia lontarkan gagasan gubernur sebaiknya kembali dipilih
presiden, kayak zaman Pak Harto itu. Tentu ini membuat orang tambah bingung.
Gagasan model begini niscaya tak akan muncul di masyarakat Iraq . Padahal, mereka
lebih menderita daripada kita. Soalnya, waktu dipimpin Saddam Hussein, yang kata
Amerika diktator kejam, otoriter, dan ganas, rakyatnya bisa tenang main di
taman, juga bisa baca buku apa saja di perpustakaan nasionalnya yang
superlengkap.
Tapi setelah Saddam disikat AS dan sekutunya, dan Iraq jadi negara demokrasi,
lengkap dengan pemilunya seperti kita, rakyatnya malah jadi tidak berani ke luar rumah. Apalagi bersantai di taman atau berenang di Sungai Tigris yang terkenal itu.
Demokrasi memang seperti kekasih yang kita rindukan. Kekasih yang kalau kita
kawini bisa memberikan kebahagiaan lahir batin. Memabukkan. Sehingga kita lupa
kalau kabahagiaan itu hanya bisa dicukupi kalau kebutuhan lahir, seperti
sandang, pangan, dan papan ada. Untuk itu, harus ada penghasilan.
Sedangkan kebahagiaan batin sumbernya dari Gusti Allah. Kalau batin kita tidak
memantulkan wajah pencipta-Nya, kalbu kita tidak dipenuhi rahman dan rahim,
kasih dan sayang, sifat Allah yang paling didambakan para sufi, bagaimana
mungkin ada kebahagiaan di batin kita?
Karena itu, kalau demokrasi belum membawa berkah seperti sekarang, padahal
demokrasi adalah cara paling masuk akal untuk menyejahterakan rakyat, jangan
tanya kepada politisi. Jangan tanya profesor doktor. Tanya kepada kiai. Tentu
kiai yang paham ayat-ayat Allah yang lahir maupun batin. Kalau bingung
mencarinya, datang saja ke Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin di Rembang, Jawa Tengah.
Benar, itu memang pondok KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus. Tapi, tidak perlu
ke Gus Mus untuk urusan beginian. Cukup KH Yahya Staquf (Gus Yahya), keponakannya.
Mantan juru bicara presiden (Gus Dur) itu sekarang memang naik pangkat. Jadi
“juru bicara” Rasulullah. Tidak rumit dan tidak menimbulkan kontroversi karena
yang disampaikan semata-mata pesan-pesan Kanjeng Nabi yang sudah teruji
kebenarannya selama ratusan tahun.
Soal demokrasi pilih-memilih yang malah membuat kita geleng kepala, kata Gus
Yahya, karena demokrasi kita tidak dijalankan sesuai syariatnya. Syariat
demokrasi itu vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan. Maksudnya, ketika
kita berada di dalam TPS (tempat pemungutan suara), kita harus menempatkan diri
sebagai waliyullah, wakil Tuhan. Maka, ketika memilih lurah, bupati, gubernur,
presiden, atau anggota legislatif, harus yang juga memiliki sifat-sifat Tuhan.
Rahman dan rahim. Ini sifat generik seorang pemimpin.
Makanya, Gus Yahya lalu mengutip hadis innamal aalu bin niyyah yang terkenal itu.
Segala sesuatu dinilai dari niatnya dan Allah niscaya akan mengabulkan sesuai
niatnya. Misalnya, kalau niat kita salat atau puasa agar lingkungan mengira kita
saleh, insya Allah Tuhan akan mengabulkan. Kita bisa dikira orang saleh oleh
masyarakat sekeliling. Kalau sudah begini, jangan lalu berharap dapat pahala
karena niatnya toh bukan cari pahala.
Gus Yahya ternyata juga bisa menghubungkan innamal aalu.. dengan pemilu.
Sebab, menurut survei spiritualnya, ketika berada di bilik TPS, rata-rata kita
niatnya hanya memilih bupati, gubernur, atau presiden. Sebagian di antaranya
nyoblos dengan niat dapat uang Rp 50 ribu-Rp 100 ribu, atau kaus dan berbagai
jenis upeti politik lainnya. Nyaris tidak ada yang dari rumah berniat memilih pemimpin?
Dan memang, Allah kemudian mengabulkan kita. Yang ke TPS niatnya nyari bupati,
dikasih bupati, yang niatnya memilih gubernur, dapat gubernur, tapi yang ke TPS
tergiur janji-janji, ya dapatnya juga janji. Yang memilih karena ingin yang
ganteng, ya dap at yang ganteng. Nah, kalau sudah begini, kata Gus Yahya, menjadi
tidak rasional kalau kemudian kita menuntut kesejahteraan. “Lha, wong niatnya
dulu di TPS bukan memilih pemimpin, kok kemudian nuntut macam-macam?” ujarnya.
Jadi, katanya, kalau kita ke TPS berniat mencari pemimpin, insya Allah Tuhan
akan mengirimi kita pemimpin. Bupati, gubernur, presiden, itu belum tentu
pemimpin. Itu pangkat. Pekerjaannya bupati, gubernur, presiden, juga para
menteri, sudah ditentukan. Ada aturan mainnya. Tapi kalau pemimpin, segala
tindakan dan kebijakannya akan terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang
dipimpinnya (tasharruf al-imam ala al-rayyah manuhunibi maslahah).
Memang, pemimpin di kabupaten bisa saja bupati, atau gubernur di tingkat
provinsi.
Tapi, tidak bisa adagium itu dibalik. Sebab, bupati, gubernur, bahkan presiden,
belum tentu pemimpin bagi rakyat di kawasan itu. Kecuali dia berbuat sekuat
tenaga dan pikirannya sepenuhnya tercurah bagi kemaslahatan umat.
Jadi, jangan salahkan pemilu bila kita tak kunjung sejahtera. Jangan sangsi
kepada demokrasi bila penderitaan kita tak kunjung teratasi.
Menjalani kehidupan demokrasi memang tidak gampang. Karena demokrasi juga ada
syariatnya. Selain harus mengingat innamal aalu bin niyyah, juga harus ada
kebebasan individu dan akuntabilitas. Dua hal yang langka di negeri kita.
Mudah-mudahan pada pemilu ke depan nanti, fatwa demokrasi KH Yahya Staquf ini
bisa menjadi acuan kita bersama.
*) Tulisan ini dimuat di rubrik OPINI harian Jawa Pos – Indo Pos edisi Sabtu, 15
Desember 2007
Eka Kurnia

Pustakawan STIE Nusantara
Jl.DI.Panjaitan Kav.24 Bye Pass
Jakarta Timur
021-8564932 ext:28
eka@stienus. ac.id
http://www.ekakurnia. multiply. com
YM : akang_eka0782

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: